SPORT & ENTERTAINTMENT
Movie Review

All-Time Fashion Icon

MOVIE REVIEW

Teks oleh Alexander A. Ermando

 

Judul           : Breakfast at Tiffany’s

Pemeran      : Audrey Hepburn, George Peppard, Patricia Neal, Buddy Ebsen

Sutradara    : Blake Edwards

Distributor   : Paramount Pictures

Tahun          : 1961

 

“I’m just CRAZY about Tiffany’s!” – Holly Golightly

Begitulah pernyataan Holly Golightly, seorang wanita sosialita kepada Paul Varjak, pria yang baru saja ditemuinya dan akan menjadi tetangganya di sebuah duplex di New York. Holly juga seorang wanita bayaran yang khusus melayani pria-pria kelas-kelas atas. Pria-pria ini membayarnya dengan jumlah yang tak biasa, namun hanya untuk kencan sesaat. Tak heran ia harus kucing-kucingan agar bisa bebas dari pria-pria paruh baya yang meminta “pertanggungjawaban”-nya.

Hobinya tergolong unik; setiap pagi, berpakaian serba glamor, hanya berdiri di depan toko perhiasan ternama Tiffany & Co. sambil menikmati pastry dan segelas kopi di tangan. Setelahnya, dia akan pulang ke apartemen. Hanya itu.

Sementara Paul Varjak, ternyata juga seperti Holly, menjadi boytoy untuk seorang perempuan yang usianya mungkin sudah berkepala empat. Di balik hal itu, Paul memiliki keinginan untuk menjadi seorang penulis handal. Sebuah buku hasil karyanya sudah diterbitkan, sayang tidak laku di pasaran. Kepadanyalah Holly menjadi terbuka tentang kisah hidup dan berbagi keresahannya. Holly memanggil Paul dengan nama Fred, sebagaimana nama adik kandungnya yang saat itu  sedang berada di medan perang.

Alur cerita tentu bisa diduga, Holly Golightly dan Paul Varjak akhirnya terjebak dalam percintaan. Film bergulir dan berfokus pada tarik-ulur hubungan antara keduanya, meski kemudian diakhiri dengan adegan manis di bawah derasnya hujan. Sebuah film yang sangat kental dengan drama ala Hollywood.

Breakfast At Tiffany’s hanya mampu mendulang dua Oscar di Academy Awards tahun 1962, di mana penghargaan tersebut berasal dari kategori Best Original Song dan Best Scoring untuk lagu Moon River karya Henry Mancini yang dinyanyikan oleh Audrey Hepburn. Sisanya hanya menjadi nominasi untuk Best Actress, Best Writing, dan Best Art Direction.

Sisi cerita memang sangat biasa, namun Breakfast At Tiffany’s meninggalkan warisan yang signifikan di bidang fesyen. Apa yang dikenakan oleh Audrey Hepburn yang berperan sebagai Holly Golightly menjadi barang buruan para fashionista pada masa itu, bahkan dianggap mampu menaikkan citra kaum hawa di Amerika Serikat. Sepanjang film, Audrey tampil sangat anggun dengan berbagai gaun malam, salah satunya gaun hitam karya desainer Hubert de Givenchy. Gaun tersebut menjadi item paling ikonik di dunia perfilman dan sangat mempengaruhi selera fesyen. Begitu juga dengan cigarette holder yang dibawa-bawanya, tatanan rambut tinggi, serta aksesoris kalung mutiara dan anting besar yang dikenakannya. Kucing peliharaannya pun tak luput menjadi trendsetter. Seluruh Amerika menginginkan kucing peliharaan berwarna oranye seperti milik Holly Golightly.

Tidak hanya Audrey Hepburn, para pemeran dan figuran di film ini juga sangat bergaya. Para prianya tampil gagah dan rapi dengan jas dan tuxedo, begitu juga para wanita dengan gaun-gaun malamnya yang mewah. Salah satu yang nyentrik adalah penempatan jam tangan di pergelangan kaki; sebuah gaya yang berbeda namun tidak terkesan cheap. Tidak melulu soal fesyen, Breakfast At Tiffany’s juga meninggalkan kenangan pada beberapa adegan. Siapa yang mampu melupakan Audrey Hepburn yang duduk di jendela kamarnya, memainkan gitar sambil menyanyikan Moon River dengan suaranya yang halus itu?

Nevertheless, Breakfast At Tiffany’s mampu mempengaruhi budaya dengan masif, walau dengan plot cerita ala kadarnya, akting yang tergolong biasa-biasa saja, serta akhir cerita yang gampang ditebak. Audrey Hepburn juga berhasil membentuk dirinya sebagai legenda, fashion icon sepanjang masa, sekaligus panutan sebagian kaum hawa dalam berekspresi dan bergaya. Mungkin beberapa di antara mereka juga akan bertindak seperti Holly Golightly, yang berkata, “The only thing does any good is to jump in a cab and go to Tiffany’s”.

RELATED NEWS

Top
http://www.infopedas.com/wp-content/uploads/2021/09/logo-pedas.png