The Interview

Christian Sugiono

Digital Edition

Half Geek, Half Human. Begitu yang ia tulis untuk mendeskripsikan dirinya dalam beberapa akun media sosial. Aktor yang namanya dikenal publik sejak tahun 2005 usai membintangi film ‘Catatan Akhir Sekolah’ ini tidak hanya menyukai dunia digital, melainkan juga berkecimpung di dalamnya. Simak penuturan Christian Sugiono mengenai dunia digital dan teknologi yang ditekuninya ini.

Apa kesibukan Anda akhir-akhir ini?

Kalau sekarang, saya sedang tidak ada shooting sinetron tapi lagi shooting di Rajawali TV acara Olimpiade Indonesia Cerdas. Selain itu, saya sibuk dengan urusan kantor; perusahaan digital www.malesbanget.com dan www.setipe.com, juga sibuk jadi Bapak. Hehehe.

Selain menjadi pekerja seni di industri hiburan tanah air, Anda juga adalah seorang pengusaha yang mengembangkan startup digital. Mengapa Anda tertarik pada dunia digital?

Sebenarnya background saya kan memang kuliah IT di Jerman. Saya suka komputer dari dulu, jadi memang itu dari hati. Passion saya memang di situ. Selain itu, saya pikir kalau digital itu kan sesuatu yang baru, masih ‘hijau’, terutama di Indonesia.  Jadi, kesempatan membuka perusahaan itu masih sangat terbuka. Kita berada di jajaran generasi pertama yang membuat perusahaan-perusahaan digital. Lalu, kenapa tidak kita coba dari sekarang? Lagipula digital itu bidang yang sangat bagus dan sangat bisa dikembangkan.

Mana yang lebih Anda senangi, berkecimpung di dunia show biz atau tech biz?

Saya lebih senang di dunia tech biz. Selain karena passion dan background sekolahnya dulu di bidang itu, dunia tech biz bisa dijadikan usaha. Kalau show biz sih senang juga, tapi beda dunia. Saya sebagai aktor, bekerja sesuai kemauan orang lain. Ya paling tidak nanti sih bisa juga menjadi produser di dunia show biz, tapi untuk saat ini dunia tech biz masih favorit.

Apa motivasi Anda dalam membangun startup digital?

Untuk motivasi, saya lebih banyak membaca dan melihat yang terjadi di luar negeri. Di Amerika misalnya, di Silicon Valley itu banyak perusahana2 digital yang startnya dalam skala kecil. Mereka memulai dari hanya 3-4 orang dari kampusnya. Istilahnya, mereka membangun dari garasinya dulu dan kini bisa menjadi perusahaan besar seperti Facebook, Apple, dan masih banyak lagi. Memang, cara kerja di Amerika bedalah ya sama kita. Paling tidak, kita bisa coba mengikuti success story mereka.

Seperti yang sudah saya katakan, hal ini masih ‘hijau’ di Indonesia. Jadi bisa sesegera mungkin kita mulai perkembangan digital di sini. Masih banyak hal yang bisa digarap dan dikembangkan di dunia digital.

Sebagai seorang digital entrepreneur, kendala apa saja yang Anda temui dalam membangun bisnis tersebut?

Kendala paling susah itu mencari talent, mencari employee terutama para tim IT. Pertama, digital sedang booming di Indonesia. Semua perusahaan membuat startup, tentu mereka harus memiliki tim IT. Sekarang, yang bisa coding dan komputer cuma sedikit.

Selain itu, barang uang kita jual ini barang baru; digital. Jadi tantangan selanjutnya ya bagaimana cara kita mengenalkan ke pengguna dari prosedur atau cara pemakaiannya, maupun bagaimana cara mengembangkan produk digital kita. Ya, tapi itu termasuk bagian serunya juga.

Menurut Anda, mengapa kini banyak yang tertarik berkecimpung di dunia digital, misalnya saja orang yang memilih menjadi pekerja digital kreatif?

Kenapa ya? Kalau saya sih tertarik karena itu memang dunia saya. Barangkali, sekarang banyak yang berpikir kalau dunia digital terlihat lebih modern, lebih dekat dengan kehidupan kita. Dulu orang-orang suka main Twitter, Facebook, Instagram saja, sekarang itu malah bisa jadi profesi di Creative Digital Agency untuk menjadi seorang Social Media Officer. Kalau begitu kan, kerja jadi nggak berasa seperti kerja lagi.

Lalu, bagaimana tanggapan Anda mengenai kerja nomaden di era digital ini?

Freelance maksudnya? Ya, banyak orang kreatif yang punya jiwa freelancer. Orang kreatif cenderung susah untuk dikekang di kantor, bekerja nine to five dengan problem kantor. Kalau begitu, mereka akan stuck, mandeg. Banyak orang kreatif lebih senang nomaden atau freelance karena tentu saja bisa lebih mengeksplorasi.

Untuk beberapa perusahaan sih oke saja. Kadang kita sebal juga kalau kesusahan mendapat pekerja in house, tetapi kadang senang juga kalau ada freelancer yang bisa bantu menyelesaikan pekerjaan.

Bagaimana Anda melihat para wanita yang hobi atau ahli di bidang digital?

Keren banget. Saya melihatnya sih seksi banget. Mereka itu berbeda. Hanya saja, kalau untuk di Indonesia, masih jarang juga ada wanita yang bisa coding. Saya kenal beberapa wanita asal Indonesia yang berprofesi sebagai web atau app developer. Ada juga travel app Indonesia yang head developernya seorang wanita. Mudah-mudahnya lebih berkembanglah, lebih banyak wanita yang hobi atau ahli bidang digital.

Apa yang ingin Anda sampaikan pada pengusaha startup digital terutama yang baru memulai bisnis di bidang ini?

Kita sama-sama masih belajar. Misal ada anak-anak yang baru mulai membuat perusahaan, ya jalani dan fokus saja dulu. Kadang kasusnya, waktu seseorang sudah tahu celah untuk membuat satu perusahaan, dia pengin buat sepuluh lainnya. Membuka perusahaan itu gampang, yang susah itu maintenancenya. Jika sudah tahu cara kerjanya, nanti bisa terlihat hasilnya.

Yang kedua, cari partner yang pas dan bisa dipercaya. Kamu punya ide, tetap kamu harus cari kepala kedua dan ketiga untuk mewujudkan ide ini. Cari partner yang punya prioritas, visi, kemauan, dan semangat yang sama. Ibaratnya, api atau gasnya itu sama jadi bisa lari sejajar bersama dalam membangun startup digital ini.

Sebutkan lima kata yang mendeskripsikan diri Anda.

INTP, ribet, kreatif, detail, dan nggak gampang klop dengan orang lain.

Last words?

Saya suka quote dari Confucius, filsuf dari China. Dia bilang, “Choose a job you love, and you will never have to work a day in your life.” Kalau kamu pilih pekerjaan yang kamu suka, sesuai passion kamu, maka kamu tidak akan pernah merasa bekerja seumur hidup kamu. Menurut saya, itu penting banget. Itu saya gunakan sebagai moto dalam melakukan apapun.

Fast Questions

FAMILY? Beautiful

LOVE?  Strange

MUSIC? It’s a must.

MOVIE? I watch very few movies.

BOOK? Window of life

SOCIAL MEDIA? Distraction

STYLE? Sesuatu yang kamu pancarkan, bukan yang kamu bentuk.

IDOL? I don’t have any idol.

DIGITAL? Everything

BALI? My second home

RELATED NEWS

Top
http://www.infopedas.com/wp-content/uploads/2021/09/logo-pedas.png