Profil

DJENAR MAESA AYU Kegelisahan Seorang Perempuan untuk Perempuan

Namanya Djenar Maesa Ayu. Tahun ini, tepat 14 Januari lalu, usianya menginjak 44 tahun. Ia bahkan sudah memiliki seorang cucu yang sangat disayanginya. Meski demikian, semangatnya dalam berkarya masih belum layu. Baru-baru ini juga ia merilis sebuah karya sinema berjudul hUSh, film mockumentary yang ia kerjakan sebagai sutradara berkolaborasi dengan Kan Lume, seorang sineas independen dari Singapura. Bahkan pada 19 April nanti, film karya Hanung Bramantyo berjudul Kartini akan rilis, di mana Djenar berperan sebagai Moeryam, ibu tiri Kartini.

Film hUSh yang rilis pada November 2016 lalu menceritakan tentang seorang penyanyi bernama Cinta Ramlan yang mengadu nasib ke Jakarta, namun hanya mendapatkan berbagai kekecewaan, baik dalam karir, pertemanan, hingga asmara. Sepanjang film berjalan, tokoh Cinta ini selalu mempertanyakan sekaligus menggugat masalah-masalah perempuan, terutama mengenai tindak kejahatan seksual. Lewat film dan karakter Cinta, Djenar ingin mewakili jutaan perempuan yang hidup dalam kegelisahan, dengan berbicara dan bercerita.

“Oleh sebab itu judulnya hUSh dengan tagline ‘speak your silence and make them listen!’ dan memang sepanjang film ini Cinta terus bicara,” jelas Djenar.

Isu perempuan memang selalu menjadi fokus Djenar dalam berkarya. Ia tidak hanya memproduksi film, tetapi juga menghasilkan berbagai karya sastra. Terhitung 6 karya sastra dan 4 karya sinema yang sudah dihasilkan, dan semuanya mengangkat problema perempuan. Mereka Bilang, Saya Monyet! adalah salah satu karyanya yang paling monumental. Sebagai karya sastra, buku ini telah menjadi best-seller dan masuk dalam nominasi 10 karya sastra terbaik dalam ajang Khatulistiwa Literary Awards pada tahun 2003. Sementara filmnya yang diproduksi pada tahun 2008 berhasil mendapatkan empat Piala Citra pada Festival Film Indonesia 2009, salah satunya penghargaan dalam kategori Best New Director (Special Award). Meskipun demikian, ia menolak jika dianggap ingin memberi pesan lewat karya-karyanya tersebut. Baginya, memberi pesan moral berarti menganggap dirinya lebih baik, dan Djenar tidak merasa seperti itu.

“Saya berkarya untuk mengekspresikan kegelisahan saya maupun memotret realitas dan moralitas yang tidak melulu hitam-putih,” ungkap Djenar.

Masih banyak perempuan yang terbelenggu ketidaktahuan akibat kurangnya informasi, dan Djenar sangat prihatin dengan hal tersebut. Konstruksi sosial yang dibuat oleh pihak yang berkuasa yaitu negara, agama, dan industri membuat perempuan tidak berhak atas pikirannya, tubuhnya, dan suaranya sendiri. Perempuan dihakimi dan diadli hanya karena status, moral, bahkan pakaian yang dikenakannya. Pihak yang berkuasa ini juga menyebabkan perempuan jadi saling menghakimi satu sama lainnya. Padahal menurutnya, bukan perempuan sendiri yang menciptakan kategori-kategori ini. Sebagai perempuan, Djenar merasa kaumnya menjadi saling menghakimi dan saling mencurigai.

“Kita diadu domba. Padahal seharusnya perempuan bersatu. Tapi kekuasaan tidak menginginkan itu. Kekuasaan ingin terus memberangus pikiran dan suara perempuan maupun rakyatnya agar selalu mudah diatur,” papar Djenar.

Maka dari itu, Djenar juga mengakui bahwa bukan perkara mudah untuk mendobrak sistem yang sudah ada dan masih bertahan hingga saat ini. Sistem yang telah tercipta ini membuat banyak perempuan tidak berani untuk bicara secara terbuka. Lagipula ia juga sangat yakin bahwa tidak ada seorang pun, baik laki-laki atau perempuan, yang sudi dijadikan sebagai objek.

“Ketidaktahuan maupun ketakutan adalah hal yang paling mudah untuk dimanipulasi dan dijual saat ini. Bahkan menjadi diri-sendiri menjadi sebuah bentuk perlawanan, dan ini sama sekali tidak mudah,” jelas perempuan yang juga akrab dipanggil Nay ini.

Djenar Maesa Ayu memiliki dua orang anak perempuan bernama Banyu Bening dan Btari Maharani serta seorang cucu perempuan. Sebagai seorang ibu dan nenek, ia tahu persis bahwa hidup tidak menawarkan keamanan dan keadilan bagi perempuan. Itu sebabnya, ia rajin berkomunikasi dan mendekatkan diri dengan anak-anaknya tentang segala hal. Penting bagi mereka untuk menjadi diri-sendiri jika ingin melakukan perubahan yang besar dan berpengaruh. Ia juga memberi sejuta dukungan terhadap apa pun pilihan hidup mereka walaupun itu ditentang oleh masyarakat. Your greatest value is in yourself, itu yang selalu ia tegaskan pada anak-anaknya.

Karya seni dalam bentuk sastra dan sinema adalah cara bagi Djenar untuk mengekspresikan pikiran dan kegelisahannya tentang perempuan. Tak heran mengingat ia lahir dan besar di lingkungan yang kental dengan kesenian. Kedua orangtuanya adalah Sjumandjaja, seorang sutradara berpengaruh dan Tutie Kirana, seorang aktris di era 1970-an. Begitu juga dengan saudara-saudaranya yang memilih jalur seni. Sejak kecil ia belajar bahwa seni dapat menyentuh hati dan pikiran manusia. Namun Djenar menganggap bahwa Farida Oetoyo, ibu tirinya, adalah seorang perempuan yang paling berpengaruh dalam hidupnya. Ada banyak hal yang dipelajarinya

“Saya belajar tentang etos kerja. Belajar tentang arti mencintai diri-sendiri, hidup dan kesenian, juga bagaimana menjadi manusia yang berperikemanusiaan,” tutur Djenar.

Gaya Djenar dalam berkarya memang sangat blak-blakan, terutama menyangkut isu seksualitas dan perempuan. Maka banyak pihak yang menganggap Djenar sebagai penulis dan seniman dengan cara penyampaian yang vulgar dan bahkan terbilang jorok. Meskipun demikian, Djenar tidak peduli dengan anggapan tersebut. Justru seksualitas menurutnya adalah hal yang penting untuk dibicarakan. Djenar tahu siapa dirinya dan sudah tahu resikonya, namun ia tetap kukuh berjuang untuk tetap menjadi diri-sendiri seutuhnya.

“Harus ada yang memulai. Segala macam cap itu tidak akan pernah bisa membunuh suara saya,” tegasnya.

Kalau begitu, apa proyek dan karya seni berikutnya yang akan dikerjakan oleh seorang Djenar Maesa Ayu?

“Banyak ide. Skrip, film, juga cerita dongeng anak-anak. Tapi belum ada yang jadi. Semoga,” tutup Djenar.

RELATED NEWS

Top
http://www.infopedas.com/wp-content/uploads/2021/09/logo-pedas.png