The Interview

FARAH QUINN

FQ-High-res-photo-2 L1004588-edtsty L1004597

Halo Chef Farah Quinn. Apa kesibukan Anda akhir-akhir ini?

Macam-macam sih. Kebetulan saya sedang akan meluncurkan produk sendiri. Selain itu, saya sekarang juga menjadi signature chef KLM. Saya juga masih sibuk endorse untuk negara, resort, maupun beberapa produk. Ya, pokoknya selalu jalan.

Lalu, bagaimana cara Anda menemukan waktu yang pas untuk memasak atau membuat resep baru di sela kesibukan Anda yang padat tersebut?

Biasanya saya mendapatkan inspirasi oleh semua perjalanan saya. Jadi kalau pulang dari bepergian dan ada waktu ya masak. Biasanya memang saya sudah punya jadwal dari pagi sampai malam, tapi setiap kali ada waktu di selanya saya selalu menghabiskan waktu di dapur. I have beautiful kitchen in my house. Jadinya betah! Selalu disempatkan lah kalau untuk sekedar bikin kue atau masak.

Bisa dideskripsikan seberapa besar kecintaan Anda terhadap makanan dan dunia masak-memasak ini?

This is what I do for living. Dari awal, alasan saya terjun ke dunia kuliner ya karena saya mengikuti passion saya. Itu yang saya lakukan, dan benar-benar cintanya saya ada di dunia kuliner ini. Meskipun pada awalnya saya kuliah di jurusan finance, tetapi setelah itu saya masuk ke sekolah kuliner juga. Culinary industry is a part of my life. Selain itu, saya juga tertarik dari kecil ke dunia kuliner ini.

Adakah makanan khusus yang selalu terkenang dari masa kecil Anda?

Keluarga saya berasal dari Palembang , Sumatera Selatan. Jadi yang selalu terkenang ya makanan Palembang. Itu yang biasa dihidangkan oleh Ibu saya.

Apa makanan favorit Anda?

Banyak makanan yang saya coba selama saya mengunjungi berbagai tempat di seluruh dunia. Kalau di Indonesia pun, bukan tidak mungkin saya punya jadwal one day trip. Di setiap perjalanan, saya mencicipi makanan terbaik dari setiap lokasi yang saya kunjungi. Saya sangat beruntung bisa memiliki kesempatan untuk mencoba makanan terbaik di mana saja sepanjang waktu.

Saya selalu suka manis dan dessert, tapi saya juga suka makan makanan yang membuat saya merasa sehat dan baik. Salah satu dari makanan favorit saya adalah makanan Jepang. Dalam satu tahun, saya bisa ke sana tiga kali hanya untuk menikmati makanannya. I also love Italian food. Saya juga suka beberapa makanan Indonesia. It’s just really depends where I am. Saya bahkan bisa ke India demi menikmati seluruh makanan di sana selama seminggu.

Adakah food philosophy yang selama ini Anda pegang?

Filosofi saya sangat sederhana. Lebih sedikit prosesnya, lebih baik. Stay away from processed food. After I start to stay away from that food, I feel energized. Begitu saya mulai gaya hidup sehat saya. Jika Anda tidak memiliki kesempatan untuk mencobanya, so just try. Percobaan pertama selama enam hari dan itu telah mengubah hidup saya. You need to feel that to understand what I am talking about.

Sebagai seorang chef yang peduli dengan gaya hidup sehat. Makanan sehat seperti apa yang Anda rekomendasikan untuk dikonsumsi?

Sekarang biasanya saya makan sederhana saja, asal sehat dan mengenyangkan. Saya tidak suka makan porsi kecil lalu kemudian nantinya saya akan merasa lapar lagi. I don’t want to do that. I eat and I get satisfied. Yang paling penting adalah pilihan makanan yang kita makan. Sekarang, saya tidak makan makanan yang digoreng atau segala makanan yang sekiranya akan mengambil energi saya. Makanan seperti itu tidak lagi saya sentuh. Like I said, I’m addicted to that feeling; feeling good. I changed my diet. Kalau saya sekarang sih sudah tidak lagi mengonsumsi gula putih, tepung putih, maupun nasi putih.

Pilih makanan berenergi, bukan makanan yang akan mengambil energi kita. Sebaiknya hindari saja makana instan. Saya lebih merekomdasikan unprocessed food. Makanan ini tidak berarti makanan mentah atau raw food ya.

Berkaitan dengan profesi Anda, apakah Anda memiliki cooking goal?

Tidak, saya pikir setiap chef membuat atau menciptakan resep dari sesuatu yang menginspirasinya dalam kesehariannya. Jadi ya tidak ada list khusus untuk apa yang harus dilakukan atau diciptakan.

Saya sendiri justru lebih concern ke hal-hal kecil lain yang ada di sekeliling kita saja. Begini, saya tumbuh di Sumatra dan bersekolah di sekolah umum di sana. Saya kembali lagi setelah 30 tahun, dan menemukan kenyataan mengenai buruknya sistem sanitasi di sana maupun di berbagai sekolah lain di Indonesia. Dulu saya biasa makan makanan yang dimasak oleh ibu-ibu pedagang, sekarang semuanya serba instan, menggunakan pewarna yang berbahaya, bahkan kurang higienis.

Hal-hal ini yang membuat saya merasa sedih. Mengapa, dengan segala teknologi dan informasi yang bisa didapat dengan mudah di Indonesia, kita justru masih sangat ketinggalan dalam banyak hal? Tidak hanya kebiasaan makan makanan bersih dan sehat, tetapi sanitasi juga. Saya tinggal di Amerika Serikat selama 13 tahun, saya bersekolah di sekolah kuliner, dan saya pun belajar mengenai sanitasi dasar. I’m talking about washing hands. Why is it so difficult to everybody to wash their hands? That’s my concern, and I want to do something about that.

Beberapa waktu lalu, anda diundang menjadi salah satu pengisi acara dalam Ubud Food Festival. Apa pesan dan kesan Anda mengenai acara tersebut?

It’s amazing. Acara ini harus selalu ada setiap tahunnya. Bagus untuk industri kuliner dan sangat membantu para anak muda menemukan passion mereka. Saya berharap Ubud Food Festival semakin lama semakin besar dan ramai.

Fast questions

Family? My son

Love? Too many

Book? Hotel Key. The latest book I read. It’s about Kerobokan Jail.

Movie? The Revenant

Style? Classy

Music? Deep house

Social Media? Instagram

Food? Clean

Ubud? Festival

Bali? Heaven!

 

Foto: Mario Andi Supria & Rio Motret

(Ditulis dan disunting oleh Tiara Mahardika)

RELATED NEWS

Top
http://www.infopedas.com/wp-content/uploads/2021/09/logo-pedas.png