The Interview

INDRA LESMANA

 interview-indra

Setelah dua tahun menetap di Bali, apa kesibukan Anda di sini?

Seperti biasa, kesibukan saya ya composing musik setiap hari, karena memang itu kebutuhan hidup saya. Selain itu, saya juga mengajar, membuat event dua mingguan (Mostly Jazz) di Griya Santrian, Sanur, dan sedang membangun sanggar musik di Sanur.

Bisa diceritakan mengenai sanggar musik yang sedang dibangun ini?

Sebenarnya sanggar ini adalah salah satu alasan saya untuk pindah ke Bali. Saya merasa untuk membangun sebuah sanggar tidak bisa dilakukan secara instan. Harus ada asimilasi dari saya sendiri yang baru saja pindah ke Bali, sosialisasi yang kemudian saya lakukan melalui Mostly Jazz, dan yang ketiga, harus memastikan bahwa apa yang sedang dibangun ini memang dibutuhkan untuk negeri.

Jadi, pelan-pelan saya meramu, menggodok, mempelajari kebutuhan perkembangan musik khususnya di Indonesia. Saya sendiri cukup fleksibel dengan silabus dan program yang akan ada di sanggar. Semuanya dilihat dari kebutuhan.

Lalu, mengenai album “About Jack” yang baru saja Anda rilis. Apa yang paling spesial dari album terbaru tersebut?

Ini adalah album yang cukup unik. Biasanya, kalau membuat album saya membutuhkan waktu cukup lama untuk menjalankan proses pencarian. Album About Jack ini agak berbeda karena inspirasi dan prosesnya berjalan sangat cepat.

Waktu itu saya sempat sakit dan harus di rawat di Jakarta. Selesai operasi, saya pulang ke Bali pas 18 Oktober, bertepatan dengan ulang tahun almarhum Ayah. Saya sempat bermimpi bertemu dan bermusik bersama beliau. Sewaktu terbangun, saya coba mengingat-ingat lagu yang saya mainkan. Saat itu, selama tiga hari saya bahkan tidak keluar studio. Saya coba recall dan mengulik sound dari sound gitar Ayah dengan keytar saya, sambil menulis partiturnya.

Bagi saya, album adalah sebuah dokumentasi perjalanan hidup, seperti sebuah diary. Setiap album memiliki cerita, dari proses hingga jadi. Jika saya mendengarkan album saya yang sudah-sudah, saya justru mengingat proses pembuatannya. Itulah yang mahal dan lebih berharga. About Jack ini adalah catatan hidup saya. Albumnya sudah ada di iTunes dan CD album baru selesai cetak awal September 2016, selanjutnya akan segera beredar di pasaran.

Apa arti musik bagi Anda?

Mungkin karena saya lahir di dunia yang sangat dekat dengan musik, jadi bagi saya musik itu seperti nafas. Sehari-hari, yang ada di kepala saya ya musik. Setiap bunyi yang saya dengar ada nadanya.

Dalam bermain musik, mana yang lebih penting; bakat, keuletan untuk belajar, atau ada yang lain?

Pada akhirnya sebenarnya seberapa besar passion dan tujuan kita untuk menggeluti satu bidang. Tidak ada bedanya dengan seni yang lain. Bagi saya, semua hal dalam kehidupan itu adalah seni. Apapun yang kita geluti itu ada seninya. Seberapa ingin mendalami suatu hal itu tergantung pilihan hidup. Ada yang ingin get into it, atau ada yang hanya dijalani saja asal menghasilkan uang.

Singkatnya, tujuan adalah hal; yang paling penting. Bermusik untuk apa? Kalau memang bermusik untuk mewujudkan passion ya musti mendalami filosofi musiknya. Kalau ingin berhasil dalam industri ya harus bergaul dengan orang-orang di dalamnya. Pada akhirnya, kita semua harus memilih dunia yang sesuai. Kalau ingin menjadi musisi, secara teknis, harus latihan. Tidak bisa hanya dengan mengandalkan teknologi atau menonton youtube saja.

Sebagai pemusik kawakan, apa yang biasa Anda lakukan jika sedang mengalami kebuntuan dalam menciptakan musik?

Biasanya, saya ke pantai mengosongkan pikiran atau menonton film. Namanya saja buntu, that means something is blocking our mind, and we need to free our mind. Kadang kita stres dengan target yang sudah kita buat sendiri. Saya sendiri sudah jarang menghadapi deadline. Kalaupun ada, saya sudah mendapatkan ritmenya dan bagaimama bekerja dengan deadline tersebut.

Menurut saya, hal paling mudah untuk dilakukan kalau sedang mengalami kebuntuan dalam bermusik ya melakukan hal yang tidak ada hubungannya sama sekali. You need a break and you deserve a break.

Bagaimana Anda melihat perkembangan industri musik di Indonesia, khususnya musik jazz?

Bagus sekali. Orang Indonesia suka sekali dengan musik, sejak dulu. Orang Indonesia juga sangat apresiatif terhadap karya bangsa sendiri. Terlebih, punya apresiasi yang cukup baik saat melihat orang lain melakukan sesuatu. Jazz itu kan ada ketrampilannya. Jadi dari dulu musik jazz sudah punya tempat lah untuk orang Indonesia.

Indonesia bisa dibilang one of the best place for jazz in Asia. Kita punya banyak sekali festival. Musisi muda terus lahir.  Sekolah musik juga banyak tumbuh. Perkembangan musik jazz di Indonesia cukup menakjubkan dan menarik.

Di lihat dari sisi yang lebih luas, produksi musik juga sangat erat hubungannya dengan industri film. Menurut Anda, sudah sejalankah produksi musik Indonesia untuk mendukung industri film misalnya?

Kalau kita melihat industri film di Indonesia, jelas tidak bisa dipisahkan dari perkembangan musik itu sendiri. Perkembangan audio, musik, dan industri musik, banyak yang terkait, salah satunya dengan film. Musik mempunyai peran penting dalam visual. Kalau kita lihat film dari dulu hingga sekarang, sudah banyak sekali ilustrator musik yang sudah menyumbangkan talentanya ke industri perfilman. Sekitar era 90-an ke atas bahkan sudah banyak insan musik, orang-orang yang belajar musik ke luar negeri khusus untuk ilustrasi musik.

Industri film nasional sangat bagus, terlihat dari banyaknya jumlah penonton yang menikmatinya. Saya pikir, semakin keren sih musik yang ada di film-film Indonesia ini. Ya teman-teman di bagian audio perfilman, semuanya learning by doing. Masih ada kekurangan, tapi justru itulah yang harus dibenahi. Setiap bioskop juga kalibrasi suaranya tidak sama, belum ada standardisasi. Meskipun demikian, sekarang sudah maju pesat dibanding dulu. Saya buat musik untuk film dari tahun 80-an, Rumah Ketujuh, atau Andriana itu sangat berbeda.

Selama 40 tahun bermusik, tentu Anda sudah banyak berkolaborasi dengan pemusik lainnya. Kolaborasi mana yang paling berkesan?

Yang paling berkesan sampai sekarang adalah kolaborasi dengan Chick Corea Elektric Band pada tahun 1987. Usia saya saat itu masih 2 tahun. Mereka menghubungi saya dan bertanya apakah saya mau main selagu dua lagu dengan mereka. Agak gugup juga menerima tawaran itu karena Chick Corea Elektric Band saat itu benar-benar idola saya. Saya bertemu mereka sejak umur 16 tahun di Australia. Mendengarkan musik mereka bagi saya seperti membaca sebuah buku. Saya ulik musiknya. Jadi ketika diajak berkolaborasi dengan mereka yang musiknya telah saya ulik bertahun-tahun, tentu merupakan suatu blessing. Dream came true.

Apa harapan dan pesan Anda terhadap generasi penerus Indonesia yang berkarir di bidang musik?

Sekarang adalah saat yang justru sangat exciting untuk dunia musik di dunia. Saat ini musisi bisa punya studio sendiri di rumah, bisa berkarya tanpa harus punya modal yang besar, bisa juga mengumpulkan fans sendiri melalui media sosial, berjualan karyanya sendiri ke follower-followernya. Itu adalah satu hal yang tidak mungkin dilakukan jaman dulu.

Ada bagus ada jeleknya. Bagusnya sekarang musisi bisa mandiri. Susahnya, saingannya jadi lebih banyak. Tiap hari akan bermunculan yang baru dan yang lebih bagus, jadi kita nggak bisa terlalu berpegang pada  follower kita. Tidak semuanya pasti akan selalu mendukung kita. Jangan terlalu terbuai dengan sosial media. Tidak apa untuk bikin interaksi karena nanti itu berguna, tetapi tetap harus terus fokus ke musik kita sendiri, jangan fokus ke outcome. Fokuslah pada proses daripada hasil akhir.

 

Wawancara oleh Tiara Mahardika, Griya Santrian Sanur – September 2016

Foto oleh IB Baruna Luhur

(Ditulis dan disunting oleh Tiara Mahardika)

RELATED NEWS

Top
http://www.infopedas.com/wp-content/uploads/2021/09/logo-pedas.png