The Interview

MALIQ & D’ESSENTIALS

14474295_1671762753140866_6139423159973052416_n

Grup musik beraliran jazz asal Jakarta, MALIQ & D’Essentials, pernah ikut andil mengisi soundtrack film-film Indonesia. Dua single dari album Free Your Mind (repackaged, rilis awal 2008) “Dia” dan “Kau Yang Bisa”, menjadi original soundtrack untuk film Claudia/Jasmine. Selain itu, lagu berjudul “Semesta” yang rilis Januari 2015 lalu didaulat menjadi lagu pengiring utama film Filosofi Kopi.
Apa kesibukan MALIQ & D’Essentials saat ini?
Saat ini sibuk promo dan manggung. Selain itu, kita juga sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih dari sekedar musik, yang berhubungan dengan album kompilasi Pop Hari Ini.

Bagaimana rasanya bisa terlibat dalam produksi film?
Senang, karena kita jarang punya kesempatan seperti itu. Kita juga nggak fokus di situ (perfilman) sebenarnya. Jadi saat ada film yang mengapresiasi lagu-lagu kita ya itu adalah value tersendiri bagi kita. Itu yang sangat kita hargai.

Salah satu lagu di album MUSIK POP dipilih menjadi soundtrack untuk film Filosofi Kopi. Bisa diceritakan sedikit bagaimana kisahnya?
Jadi kita cukup dekat dengan Glenn Fredly (produser) dan sutradaranya, Angga Dwimas Sasongko. Angga sudah kerja sama dengan kita sejak 2008 sebagai sutradara video klip kita. Jadi, semua produk yang keluar dari kita selalu dilihat oleh dia. Kebetulan ada film Filosofi Kopi yang kisah di lagunya itu (Semesta) relate sama cerita di film. Makanya dia langsung datang ke kita dan tahu lagu mana yang bisa dimasukin ke Filosofi Kopi sebagai salah satu soundtrack-nya.
Apa arti film dan musik bagi kalian?
Pastinya bisa dibilang tidak terpisahkan ya. Pasti musik dan film itu saling berkaitan dan saling membutuhkan. Setiap film pasti ada musik atau scoring. Suatu musik juga berasal dari sebuah pengalaman atau cerita, jadi bisa menjadi dasar untuk kisah film juga.

Adakah suatu saat nanti para personil MALIQ & D’Essentials akan melebarkan sayap ke dunia perfilman, sebagai pemain misalnya?
Kita open untuk semua kemungkinan sih, sebagai pemainnya atau pun yang lebih dekat mungkin sebagai produser. Seperti Widi, Ilman, Lale, dan Jawa itu kan produser (musik), jadi untuk mengisi soundtrack atau scoring itu bisa menjadi tantangan tersendiri ya. Kalau pun sebagai pemainnya bisa saja, tapi perlu belajar akting dulu.

Menurut MALIQ & D’Essentials, bagaimana perkembangan film Indonesia saat ini?
Sebagai orang awam sih, seru ya. Makin banyak dan makin meriah. Sejak awal kebangkitan AADC? (Ada Apa Dengan Cinta?) pertama waktu itu, makin ke sini makin meriah. Terutama pertimbangan antara film-film yang katanya menjual seperti horor dan sebagainya dengan film yang banyak unsur budaya dan nasionalisme serta nilai-nilai agamanya semakin seimbang. Karena penonton Indonesia semakin pintar juga untuk menilai film mana yang layak untuk ditonton. Jadi semakin meriah filmnya, semakin pintar juga masyarakatnya.

RELATED NEWS

Top
http://www.infopedas.com/wp-content/uploads/2021/09/logo-pedas.png