The Interview

REZA RAHADIAN

DSC_0052 DSC_0128

 

Aktor yang namanya melambung tinggi setelah sukses memerankan banyak karakter dalam berbagai genre film populer Indonesia ini membeberkan konsep gentleman menurutnya dan beberapa hal menarik lain, termasuk karir dan film Rudy Habibie yang baru tayang di bioskop bulan lalu.

 

Bagaimana perasaan Anda mengenai perilisan film Rudy Habibie ini?

Senang sekali karena ini out of my expectation. Ternyata antusiasme masyarakat begitu tinggi. Apalagi mengingat bahwa, buat saya, film ini sangat menginspirasi sekali. Film ini penting sekali untuk ditonton terutama oleh anak-anak muda karena film ini punya value yang sangat tinggi terhadap apa artinya mencintai Indonesia. Sementara anak muda sekarang, di era yang serba instan, terkadang lebih sibuk dengan urusannya masing-masing. Tetap yang namanya nilai kebangsaan itu penting kita punya sebagai generasi muda.

 

Harapan Anda soal film Rudy Habibie untuk para penonton?

Anak muda bisa membangkitkan rasa kecintaan mereka terhadap Indonesia, kemudian bisa menumbuhkan lagi rasa excitement dan kebanggan bahwa mereka adalah bagian dari rakyat Indonesia.

 

Anda sibuk apa saja akhir-akhir ini?

Promo terus-terusan selama 3 bulan ini, dari film My Stupid Boss sama Rudy Habibie.

 

Ada project baru lagi ke depannya?

Ada dari HBO Asia, kerja sama dengan sutradara Thailand, dan akan syuting di Thailand serta di Batam.

 

Sebagai laki-laki, apa konsep gentleman bagi Anda?

Menurut saya gentleman should be very sensitive sama lingkungannya. Sensitif bukan berarti minus, lebih kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Jadi seorang gentleman menurut saya adalah orang yang harus peka terhadap lingkungannya. Lingkungan itu macam-macam, ketika mereka lagi ada acara, melihat perempuan yang lagi bawa barang berat lalu tanpa banyak pikir langsung dibantu. That is the gentleman. Lo nggak perlu diminta, lo lakuin langsung.

 

Kriteria sebagai seorang gentleman menurut Anda?

Saya sih nggak tahu ya kriteria seorang gentleman itu gimana. Tapi biasanya, kalau mereka peduli dengan diri mereka sendiri, mereka juga akan peduli sama lingkungannya.

 

Gentleman selalu dikaitkan dengan penampilan fisik, menurut Anda soal pendapat ini?

Menurut saya sih nggak ada yang salah, karena as a gentleman biasanya juga penampilan fisiknya rapi, bersih, pakaiannya juga rapi. Sesuai dengan kebutuhan di mana dia berada, atau konteks suatu acara yang didatangi. Jadi buat saya, mungkin itu yang terkadang pada kenyataannya memang seperti itu.

 

Bagaimana Anda menerapkan konsep gentleman dalam kehidupan sehari-hari?

Secara sosial, as a gentleman, mungkin keterlibatan saya di UNDP (United Nations Development Programme) ya sebagai ambassador, khususnya mengenai penyediaan air bersih. Kemarin saya sempat ke Sumba, membuat fasilitas pengadaan air bersih karena mereka nggak bisa akses air bersih sama sekali. Mereka harus jalan berkilo-kilometer everyday. Itu salah satu yang bisa dilakukan sebagai seorang gentleman kali ya.

Secara profesional dalam pekerjaan, tepat waktu, disiplin, tahu porsinya, dan tahu cara menempatkan diri.

 

Menurut Anda, bagaimana seorang gentleman seharusnya berpenampilan di depan publik?

Kalau di depan publik menurut saya yang penting nyaman sama diri sendiri dulu. Harus secure. Misalnya kayak saya sukanya pake t-shirt sama jeans, tapi saya nyaman dengan kondisi itu. Jadi saya nggak peduli orang mau ngomong apa, tapi yang jelas nyamannya saya ya begitu. Yang penting nyaman, pede, bisa bawa diri dengan asyik, pasti orangnya kuat.

 

Siapa yang menjadi panutan Anda sebagai seorang gentleman?

Morgan Freeman, Meryl Streep, Dustin Hoffman, Robert De Niro, Al Pacino, Christine Hakim. Namun sosok yang paling menjadi panutan adalah Ibu saya sendiri, karena menurut saya dia figur yang mendidik saya untuk menjadi laki-laki yang bertanggung jawab pada diri sendiri dan keluarga. Beliau menjadi inspirasi yang luar biasa buat saya karena mendidik saya dengan tepat. Mampu memberikan sesuatu yang di luar dugaan saya. Kalau nggak, saya nggak mungkin berada di posisi saya sekarang.

 

Masih adakah life goals yang belum tercapai?

Banyak. Saya ingin berkerja sama dengan banyak sutradara internasional, seperti dari Malaysia, Thailand dan sebagainya. Ya mudah-mudahan ke depannya bisa tercapai. Kalau genre film yang ingin sekali saya mainkan adalah genre musikal, dan itu sangat jarang di Indonesia.

 

Sebagai seorang aktor yang sudah memborong banyak penghargaan, bagaimana perasaan Anda karena bisa mencapai titik tersebut?

Buat saya, itu penghargaan yang harus diapresiasi, tapi balik lagi ya, nggak boleh lupa bahwa penghargaan-penghargaan yang saya dapat itu, atas kerja saya di film tersebut. Belum tentu saya diapresiasi di film lain. Maka itu selalu menjadi motivasi kenapa akhirnya saya, alhamdullillah, selalu dinominasikan. Saya selalu manjaga konsistensi performance saya di setiap film. Agak berbahaya juga kalau kita berpikir penghargaan itu jaminan dari segalanya.

 

FAST QUESTION

Love? Ibu

Family? Ibu dan Adik

Friend? Sahabat-sahabat saya

Movie? Godfather

Style? Street

Music? Rod Stewart

Book? What Do You Know For Sure (Oprah Winfrey)

Social Media? Nothing

Gentleman? Sincere

Acting? Wajib

 

Teks interview oleh Alexander A. Ermando

Tanggal interview: 28 Juli 2016

Foto: Oppix Borneo

(Disunting oleh Tiara Mahardika)

RELATED NEWS

Top
http://www.infopedas.com/wp-content/uploads/2021/09/logo-pedas.png