Profil

SRI WAHYANINGSIH, Bangga Menjadi Berbeda

PROFIL

Bangunan dua lantai itu berada di tengah pematang sawah yang sedang tumbuh subur. Mencapainya harus melalui jalan setapak kecil dengan berjalan kaki. Sepeda motor pun tak bisa lewat. Kala itu, Sri Wahyaningsih yang sedang berada di beranda kemudian mempersilakan masuk ke dalam untuk memulai obrolan menarik selama satu jam lebih.

Lulusan Akademi Keuangan dan Perbankan Yogyakarta ini merupakan pendiri Sanggar Anak Alam alias SALAM. Sebuah sekolah berbasis pendidikan alternatif yang memiliki tingkatan setara TK (disebut Taman Anak), Sekolah Dasar, dan Sekolah Menengah Pertama. Sekolah yang terletak di kawasan Nitiprayan menempati bangunan yang didirikan secara swadaya oleh masyarakat sekitar pemukiman daerah itu.

Jika dirunut, sekolah rintisan Wahya, panggilan akrabnya, dibentuk pertama kali di Lawen, Banjarnegara pada tahun 1988. Inisiatif pendirian tersebut didasari pada keprihatinannya terhadap kondisi masyarakat di sana. Bagi mereka, sekolah bukan urusan utama, yang penting bekerja, bertani, dan bisa membawa pulang uang. Banyak anak-anak di sana yang putus sekolah di tengah jalan.

“Sebagian besar warga malah merantau keluar, padahal desa mereka punya potensi yang besar,” kenang Wahya.

Setelah berdiskusi dengan warga setempat, sekolah pendidikan alternatif rintisan Wahya pun didirikan. Anak-anak pun diboyong ke sana, menempati rumah mertuanya yang cukup besar untuk menampung dan melakukan kegiatan. Di situ, anak-anak diajak mempelajari dan mengamati kondisi sekitar mereka, apa yang disebut Wahya sebagai “berpetualang”. Setelahnya, anak-anak pun diajak berdiskusi untuk menelurkan solusi dari permasalahan yang ditemukan. Hasilnya berbuah manis, bersama para orangtua, mereka mengolah hasil bumi untuk didagang, terutama dalam bentuk makanan.

Wahya bukanlah pengajar. Namun sistem pendidikan alternatif yang dirancangnya terinspirasi oleh Romo Mangunwijaya, seorang cendekiawan yang fokus terhadap kondisi masyarakat kalangan bawah. Wahya pun sempat mengikuti kegiatan Romo di Kali Code. Selain itu, orang lain yang menjadi inspirasinya adalah neneknya, yang lebih banyak mengajarkan tentang filosofi kehidupan dan menggunakan pengalaman untuk mencapai kesuksesan, didukung juga dengan lingkungan masa kecilnya di pedesaan.

“Saya sempat ditawari untuk kerja di bank setelah saya lulus. Namun saya tidak tertarik, karena itu membosankan buat saya,” ungkap Wahya.

Ketika hijrah ke Jogja bersama suami dan anak-anaknya, ide untuk mendirikan sekolah seperti di Lawen pun juga muncul. Setelah mendapatkan persetujuan oleh warga, ia pun mulai merintis berbagai program pendidikan sederhana untuk anak-anak, terutama terkait dengan kehidupan sehari-hari mereka. Segala hal menjadi aspek pembelajaran, terutama tentang pangan, kesehatan, lingkungan, dan budaya yang menjadi permasalahan vital dalam masyarakat. Sebagai inspirasi, Wahya mencontoh tiga prinsip yang dirancang oleh Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia.

“Ada 3 prinsip penting, yaitu niteni (mengamati), nirokke (meniru atau mencontoh), dan nambahi (mengembangkan dan inovasi). Dewantara juga menekankan ada 3 pilar utama dalam pendidikan, yaitu orang tua, masyarakat, dan perguruan,” jelas Ibu dari 3 putera ini.

Wahya pun berkali-kali menekankan bahwa sekolah harus menyenangkan, tidak membebani, dan bisa menjadi tempat untuk lebih mempelajari hal-hal yang substansial. Hal-hal seperti aktivitas sehari-hari, kondisi sekitar, atau pun hasil pengamatan mereka. Baginya, justru dari hal tersebut anak-anak tetap belajar berhitung, menulis, dan membaca, sekaligus mempelajari makna obyek yang mereka amati. Sistem pendidikan alternatif seperti ini pun menurutnya lebih mampu mengembangkan kemampuan seluruh indera yang dimiliki. Mereka belajar apa yang mereka alami, belajar dari peristiwa, dan belajar asal-usul kehidupan.

“Sekolah itu lebih ke proses, bukan sekedar nilai atau peringkat,” tegasnya.

Tak heran jika Wahya sangat kritis terhadap sistem pendidikan Indonesia saat ini. Baginya, pendidikan saat ini sudah begitu macet. Ia pun tidak menyetujui dengan sistem pendidikan yang disamaratakan hingga seluruh pelosok. Pendidikan, menurut Wahya, haruslah mempertimbangkan kebudayaan dan potensi daerah setempat. Dengan demikian, mereka pun mampu berkembang dengan usahanya sendiri.

“Berbeda itu boleh, tidak masalah. Kalau semuanya disamakan dan seragam, tentu akan berpengaruh ke pola pikir. Akibatnya, orang menjadi ketakutan dan merasa aneh ketika berbeda,” jelas Wahya.

Wahya juga menekankan bahwa keluarga adalah tempat pertama dan paling utama bagi anak untuk mendapatkan pendidikan layak. Para orang tua pun harus rajin-rajin berinteraksi dengan anak-anaknya, bahkan sebisa mungkin membuat anak-anak lebih dekat dengan lingkungan dan orang-orang sekitarnya. Proses seperti itu menurutnya akan membuat anak lebih percaya diri untuk menjadi diri sendiri dan lebih bertanggung jawab.

“Jika itu tercapai, itu akan membentuk keluarga-keluarga yang bahagia,” ujar Wahya menutup obrolan panjangnya.

 

Oleh Alexander A. Ermando

 

RELATED NEWS

Top
http://www.infopedas.com/wp-content/uploads/2021/09/logo-pedas.png