Profil

TREVOR ZHOU

INTERVIEW-TREVOR INTERVIEW-TREVOR2

Senyum sumringah tersungging di wajah orientalnya saat menyapa awak media yang hadir dalam jumpa pers 2nd Minikino Film Week 2016 pada awal bulan lalu. Setelah acara jumpa pers, barulah kami berbicang dengan Trevor Zhou, filmmaker asal Amerika Serikat yang khusus datang ke Bali untuk ikut serta dalam kemeriahan 2nd Minikino Film Week 2016 ini. Filmnya yang berjudul “Waltz” diputar di beberapa lokasi saat festival film pendek internasional ini berlangsung.
Trevor Zhou. Sebelum menjadi filmmaker, Trevor justru memulainya dengan berakting dalam beberapa film komersial. Dari sanalah ia kemudian ingin memperkenalkan dirinya yang sesungguhnya melalui film. Ia ingin menginspirasi banyak orang melalui film yang telah diproduksinya.
Di antara menjadi pemeran film dan filmmaker, Trevor menikmati keduanya. Namun, ia menyadari pengalamannya menjadi seorang aktor tidak terlalu banyak. Ia memang pernah terlibat dalam proyek besar tetapi hanya mendapat peran kecil. Ia menyadari perbedaan peran antara menjadi aktor dan sutradara atau penulis naskah. Baginya, dengan menjadi sutradara atau penulis naskah dalam sebuah produksi film, ia akan benar-benar dapat menciptakan sebuah cerita atau karakter yang kuat.
Trevor kemudian mulai menyutradarai film pendeknya sendiri. Menurutnya, film pendek mempunyai struktur yang berbeda dan idenya pun lebih bisa dituangkan. Trevor biasa mendapatkan inspirasi menulis cerita film dari pengalaman pribadi. Ia ingin berbagi hal-hal yang ia ketahui dari kehidupan sehari-hari, meski diakuinya ia juga suka bermain dengan imajinasi untuk menghidupkan unsur-unsur lain dalam setiap produksi filmnya. Ia telah belajar banyak dari dunia film yang digelutinya. Dengan gamblang, Trevor berbagi pengetahuan akan tiga tahap dalam pembuatan sebuah film, yaitu menulis naskah yang bisa dikerjakan sendiri atau bersama rekan, proses produksinya yang dikerjakan bersama dengan seluruh tim pembuatan film, dan juga post-production. Setiap tahap memiliki kesulitannya masing-masing. “Bagi saya, paling sulit adalah pada tahap editing. Kadang, ada adegan yang tidak sesuai atau ada batasan durasi sehingga kita harus melewatkan adegan-adegan yang seharusnya masuk dalam film”, ujarnya.
Ada tips khusus dari Trevor untuk para sineas muda. Sambil tertawa, ia berkata “Just make a film! Don’t just shoot, but finish what you’ve started.”

***

Berikut, wawancara khusus dengan Trevor mengenai festival film.

Bagaimana Anda melihat manfaat dari sebuah festival film?
Ada banyak hal menarik dari festival film. Festival film menghubungkan para sineas film. Ini merupakan wahana untuk merayakan film dan menunjukkan hal yang jarang kita lihat. Kadang kita membutuhkan banyak biaya untuk pergi menonton di bioskop, berbeda dengan festival film. Kita bisa melihat kreativitas yang nyata yang dihadirkan oleh sebuah festival film. Saat berada dalam festival film, kita juga dapat bertemu dengan banyak orang. Festival film juga menciptakan kesadaran, visi, cerita yang barangkali sebelumnya tidak pernah terbayangkan oleh kita.

Bagaimana rasanya terlibat dalam festival film yang diselenggarakan di luar Amerika Serikat?
Saya suka membagikan film-film yang telah saya produksi ke berbagai orang dari culture yang berbeda. Toh sebenarnya kan kita ini memiliki kemiripan, kita merasakan hal yang sama meskipun dengan latar kebudayaan yang berbeda.

Bagaimana kesan Anda terhadap 2nd Minikino Film Week 2016?
I love it! Saya sangat menghargai usaha para staf Minikino untuk mewujudkan festival film ini. Saya juga sangat senang berada di sini, berbagi cerita baru dengan banyak orang. Semoga festival film seperti ini semakin banyak dan terus ada untuk banyak orang.

 

RELATED NEWS

Top
http://www.infopedas.com/wp-content/uploads/2021/09/logo-pedas.png