Life Style Profil

WREGAS BHANUTEJA

PROFILE-WREGAS

Film: Sarana Berbagi Rasa

Teks oleh Alexander A. Ermando

“Mulailah berkarya dari sesuatu yang muncul dari dirimu dan yang benar-benar ingin kamu ceritakan,”

Demikianlah pesan Wregas Bhanuteja dalam wawancara seusai Press Call Ubud Writers & Readers Festival 2016 pada 27 Oktober lalu. Wregas tampil sebagai salah satu pembicara dalam event akbar tahunan tersebut. Pria muda ini mulai mendapat sorotan setelah film pendek karyanya, Prenjak (In The Year of Monkey) berhasil mendapat penghargaan sebagai film pendek terbaik di Semaine de la Critique, Festival de Cannes 2016, dengan nama Leica Cine Discovery Prize pilihan juri utama.
Bagi seorang Wregas Bhanuteja, Festival Film Cannes adalah ajang perfilman paling prestisius yang ada. Itu sebabnya mengapa ia mengirimkan Prenjak ke pihak panitia festival. Padahal, proses keterlibatan Wregas dalam festival tersebut bisa dibilang sangat mendadak. Diakuinya, kala itu hanya tersisa dua hari untuk menyertakan karyanya dalam kompetisi film pendek yang dibuka Cannes Film Festival 2016. Tanpa diduga, usahanya yang terkesan kejar tayang ini justru menuai hasil yang mengejutkan.
“Saat itu, secara kebetulan syuting Prenjak berdekatan dengan batas akhir pendaftaran. Ya sudah, saya kebut editing dan langsung dikirim ke sana. Kalau diterima ya syukur, kalau tidak ya tidak apa-apa. Tapi ternyata diterima,” ungkap Wregas.
Kecintaannya terhadap sinematografi tumbuh saat ia masih duduk di bangku kelas 3 SMP. Saat itu ia mengikuti kompetisi film antar kelas namun sebagai aktor. Sepanjang proses produksi, ia semakin menyadari bahwa talentanya justru ada di belakang layar sebagai sutradara. Memasuki SMA, pilihannya sebagai sutradara semakin mantap dengan membuat berbagai film pendek dan rajin mengikuti festival film pelajar.
Film pendek menjadi pilihan Wregas dalam membuat karya sinematografi. Alasannya jelas, karena efisiensi serta durasi. Faktor lain yang membuat film pendek unggul baginya adalah penyampaian pesannya yang lebih efektif kepada penonton. Secara keseluruhan, film bagi Wregas menjadi sarana komunikasi, penyampaian perasaan serta pesan yang paling cepat. Penonton bisa merasakan pengalaman yang utuh ketika menonton sebuah film.
“Ketika penonton bisa ikut merasakan apa yang saya rasakan terhadap peristiwa yang saya sampaikan melalui film, maka proses komunikasi perasaan itu berhasil,”

Saat ini Wregas telah memproduksi lebih dari 10 film pendek di mana beberapa di antaranya berhasil masuk ke beberapa festival film seperti di Malaysia, Hong Kong, Berlin, bahkan hingga New York. Ketika ditanya mengenai proyek film panjang, Wregas mengakui bahwa saat ini ia sedang menulis skenario untuk film panjang pertamanya.

“Setelah dari Cannes, saya mendapatkan kesempatan untuk belajar di sebuah development lab di Paris pada bulan Desember besok. Saya akan bertemu dengan mentor penyutradaraan dan mentor penulisan skenario di sana,” ungkap Wregas.
Kemunculannya sebagai pembicara di Ubud Writers & Readers Festival 2016 menjadi hal yang menarik, mengingat Wregas Bhanuteja dikenal sebagai filmmaker, bukan sastrawan. Meski demikian, ia mengaku sangat senang dan bangga karena bisa hadir sekaligus berkesempatan untuk mempelajari sastra lebih dalam lagi. Baginya, sastra merupakan akar yang paling kuat dalam kesenian bersama seni rupa. Ia pun tertarik untuk mengangkat suatu karya sastra dari Indonesia menjadi sebuah film, namun nanti ketika ia merasa sudah lebih mampu dan lebih bisa memahami bidang sastra itu sendiri.
Tak lupa, Wregas juga berbagi tips untuk sesama para sineas muda dan pemula.
“Film itu soal taste, dan film akan menemukan penontonnya masing-masing sesuai seleranya. Jadi jangan sampai kita membohongi diri hanya karena kita ingin mengikuti selera orang tertentu. Kita harus berkarya dari hati dan berkarya sesuai apa yang benar-benar kita tahu,” pesan Wregas Bhanuteja.

RELATED NEWS

Top
http://www.infopedas.com/wp-content/uploads/2021/09/logo-pedas.png