The Interview

ISMAIL BASBETH

Foto- Dok. Ismail Basbeth

Namanya ada dalam sederet sutradara Indonesia berbakat. Ia banyak memproduksi film pendek sebelum film panjang pertamanya, Another Trip To The Moon (2015) yang menjadi peserta dalam Rotterdam Film Festival 2015. Pada tahun yang sama, ia juga dinominasikan dalam ajang Piala Citra kategori Sutradara Terbaik untuk film Mencari Hilal (2015). Bersama dengan Hanung Bramantyo, tahun ini ia menyemarakkan perfilman Indonesia dengan menyutradarai film Talak 3 (2016).
Menurut Anda, apa keistimewaan seorang sutradara dalam suatu produksi film?
Sutradara mempunyai kemampuan untuk melihat sesuatu yang belum dilihat yang lain, karena meskipun filmnya belum jadi atau belum ada, sutradara harus sudah punya gambaran atau visi tentang film itu. Tapi yang paling istimewa dari sutradara ya, melihat bayangannya hidup.

Sebagai sutradara, bagaimana pemeran yang baik menurut Anda?
Pemeran film yang baik itu yang bisa menghidupi karakternya. Agar bisa seperti itu, syaratnya satu; dia tidak menolak karakternya. Sering kali kalau kita tahu aktor atau aktrisnya menolak karakternya duluan itu sudah kelihatan dari awal. Aktor atau aktris ya harus mau menerima kemauan si karakternya itu tadi.

Adakah keinginan untuk menjajal profesi lain di luar sutradara?
Saya banyak memproduksi film pendek dan menulis cerita sendiri, berbarengan dengan pekerjaan sebagai sutradara. Secara umum, saya sudah menjajal berbagai posisi di perfilman. Saya malah ingin belajar hal di luar perfilman, seperti literatur dan seni rupa.
Saat ini berbagai festival film menjadi tujuan banyak sineas untuk menyertakan karya filmnya. Apa keunggulan dari festival film itu sendiri?
Festival film itu punya exposure yang kuat. Itu membantu para pembuat film yang punya budget terbatas, misalnya seperti film-film independen. Apalagi kalau tidak masuk festival dulu, film tidak akan dilirik publik. Maka kita memerlukan festival film agar bisa dilirik oleh publik dan media massa. Terlebih secara kualitas, sebesar apa pun festival film di dunia mereka punya kuota, paling maksimal menerima 250 film dalam satu festival. Bayangkan jika film karyamu terpilih, akan ada peningkatan kebanggan dan kepercayaan diri. Festival film membantu sutradara pembuat filmnya juga terangkat, seperti Wregas Bhanuteja.
Apakah Anda membuat film berdasarkan selera pribadi atau selera penonton?
Ada tiga hal yang menjadi pertimbangan; pribadi, kelompok, dan publik. Secara pribadi saya bekerja sebagai seniman, ya semau saya. Mau filmnya laku atau tidak, penting atau tidak, pasti saya buat. Secara kelompok, saya membuat film berdasarkan kesepakatan bersama, di mana kita membuat dengan niat tertentu, seperti menyesuaikan dengan visi dan misi di Hide Project, production house tempat saya bekerja. Kalau untuk publik, maunya mereka film seperti apa, ya saya buatkan sesuai keinginan mereka. Ketiganya saling berkaitan buat saya, karena sama-sama membuat film.
Apa yang diperlukan film dalam negeri agar bisa diterima oleh publik?
Promo. Banyak sineas yang hanya memikirkan soal produksi, namun tidak ke publiknya. Kita juga memerlukan distributor film, mengingat saat ini produser seperti penjaga gawang, yang tidak hanya memproduksi tapi juga harus mendistribusikan filmnya sendiri.
Ada pernyataan bahwa Film merupakan sarana komunikasi dan edukasi paling efisien, pendapat Anda soal ini?
Bagi yang menganggapnya demikian, ya benar. Tapi jangan lupa film atau sinema memiliki bahasa tersendiri, di luar pengertian komunikasi dan edukasi konvensional itu sendiri. Jadi harus dilihat dari bahasa sinemanya dulu, baru ke penyampaian pesan atau edukasinya. Bisa saja saya membuat film tanpa ada pesan yang ingin disampaikan. Saya membuat film karena ingin berbagi pengalaman sinematiknya kepada penonton. Misalnya saja, di Another Trip To The Moon, adanya hanya bahasa sinema. Tapi di Mencari Hilal ada begitu banyak dialog, begitu juga dengan Talak 3, yang ingin melakukan pendekatan dengan kaum remaja dengan isu pernikahan.

RELATED NEWS

Top
http://www.infopedas.com/wp-content/uploads/2021/09/logo-pedas.png