The Interview

MELANIE SUBONO, SENIMAN DAN AKTIVIS

IMG_0281edit

NATURE & SOCIETY

Apa kesibukan Anda akhir-akhir ini?

Baru selesai berobat karena tempo hari panggung jebol, tangan gue luka. Setelah itu kembali on tour. Minggu pertama September mengeluarkan SINGLE baru. Selain itu, gue masih jadi ambassador buruh migran Indonesia di 8 negara di dunia.  Masih bergerak untuk alam, fauna dan lain-lain. Satu lagi, baru saja menyelesaikan film tentang WIJI THUKUL.

Anda adalah seorang pemusik yang juga menjadi aktivis untuk isu sosial dan lingkungan hidup; dari konservasi penyu, hingga tolak reklamasi Teluk Benoa – Bali dan Jakarta Utara. Apa yang melatarbelakangi diri Anda untuk ikut tergerak dalam berbagai kampanye penyelamatan lingkungan tersebut?

Jawaban gue mungkin pendek: Apakah lo butuh alasan untuk peduli sama negara lo? Ya, gue nggak punya jawaban lain. Tugas siapakah itu kalau bukan kita? Apa yang akan terjadi kalau masing-masing butuh alasan KENAPA dulu, baru kemudian peduli?

Sebagai pemusik, bagaimana cara membagi waktu antara bermusik dan turut serta pada kampanye penyelamatan lingkungan yang Anda lakukan?

Tidak sulit karena dari dulu musik gue, lirik gue memang berisikan kampanye atau pesan yang ingin gue sampaikan. Jarang sekali membawakan musik yang lirik-liriknya berbeda dari hal-hal tersebut. Jadi ya nggak ada yang harus dibagi karena keduanya bisa dilakukan bersamaan. Bermusik saat berpesan sekaligus berpesan dalam bermusik .

Menurut Anda efektifkah jika jalur musik digunakan sebagai media untuk mengkampanyekan isu lingkungan hidup?

Tentang hal apapun, kalau mau menyebarkan pesan, pelajarilah apa yang lagi jadi tren dari pasar yang lo tuju. Sudah tau trennya? Bicaralah bahasa mereka maka pesan lo akan sampai.

Dalam usaha penyelamatan lingkungan, saat ini Anda lebih concern ke mana?

HARUSKAH kita membagi? Lalu menolak yang bukan concern kita? Silahkan buka gerakan gue yang sudah berjalan selama 9 tahun belakangan ini bernama RUMAH HARAPAN, (fb.com/RHmelanie atau rumahharapan.id ) maka lo akan lihat bahwa orang sakit di pinggir jalan sekalipun akan kita urus. Tanpa memberi batasan ke mana sebenarnya concern kita.

Concern terbesar saya adalah INDONESIA. Jadi apapun yang terjadi selama masih untuk Indonesia, saya akan peduli.

Menurut Anda dari sudut pandang seorang aktivis sosial dan  lingkungan hidup, apa masalah terbesar yang sedang dihadapi Indonesia?

Kita punya banyak pejabat yang nggak bertanggung jawab. Kebanyakan dari mereka mungkin berpikir kalau kita yang hanya rakyat ini pasti miskin dan bodoh sehingga mereka bisa melakukan apa saja. Banyak dari mereka yang melihat Indonesia sebagai aset JUAL BELI, bukan aset untuk memperkaya bangsa sendiri, yang seharusnya kita kelola sendiri.

Masyarakat Indonesia masih kerap menggunakan bahan-bahan tidak ramah lingkungan untuk kebutuhan sehari-hari, dari plastik hingga energi non-terbarukan. Bagaimana tanggapan Anda mengenai hal tersebut?

Well, menurut gue, kalau gue bukan aktivis saja gue juga nggak akan paham soal itu apalagi bicara energi baru dan terbarukan. So, sejak kapan kita lihat info dan sosialisasi mengenai hal-hal seperti itu di media-media mainstream misalnya? Jarang, kan? Ya, nggak heran kalau banyak orang yang nggak mengerti.

Jika masyarakat ingin berkontribusi dalam usaha penyelamatan lingkungan hidup, ke mana sebaiknya harus menyalurkan donasi? Apa saja langkah nyata yang harus diambil?

Mulai lah dari halaman rumah sendiri. Sudah berhenti memakai plastik? Sampah lo dibuang ke mana? Sudah ikut tanam pohon, belum? Simple kan?

Nah, terus tetangga, teman, orang-orang di sekitar lo. Sudah melakukan hal yang sama belum? Tugas lo perhatikan yang ada di sekitar saja dulu, nggak perlu ngomong lingkup negara dulu kalau rumah dan lingkungan sendiri nggak bisa lo atur.

Apa yang seharusnya dilakukan pemerintah dalam usaha penyelamatan lingkungan?

STOP menganggap lahan atau manusia Indonesia sebagai bahan jual beli untuk mempertebal ‘kantong gendut’ kalian. Hari ini mungkin aman, tapi kalau nggak mau anak kita cuma bisa melihat Indonesia dari buku sejarah, maka BERPIKIRLAH MANUSIAWI. STOP menghidupi parpol dari SDA!

Setelah semua usaha penyelamatan lingkungan yang dilakukan, lalu kini apa harapan Anda? Adakah pesan yang ingin disampaikan untuk pembaca kita?

Well, berbuat dimulai dari hal kecil kok. Kenapa harus memikirkan  donasi milyaran rupiah kalau di sebelah lo ada orang sakit dan lo masih saja cuek? Kenapa harus memikirkan pabrik semen di pulau sebelah kalau lo saja masih pakai plastik? Masih mau kan, anak cucu kita nanti melihat Indonesia? Well, maka selamatkanlah!

RELATED NEWS

Top
http://www.infopedas.com/wp-content/uploads/2021/09/logo-pedas.png