SPORT & ENTERTAINTMENT
Movie Review Sport & Entertainment

REALITA KEHIDUPAN JAKARTA

MR-2

Teks oleh Alexander. A. Ermando

Judul : A Copy of My Mind

Pemain : Tara Basro, Chicco Jerikho

Sutradara : Joko Anwar

Distributor : Lo-Fi Flicks & CJ Entertainment

Tahun : 2015

Sore telah turun, orang-orang mulai memenuhi jalanan, pulang ke tempatnya masingmasing. Begitu juga Sari (Tara Basro), yang kembali ke kosnya setelah seharian bekerja di salon kecantikan. Wajahnya sumringah karena baru saja membeli DVD bajakan film favoritnya. Sepiring mi instan siap menemaninya untuk menonton, namun kemudian raut wajahnya berubah kecewa, lantaran subtitle film tersebut tidak sesuai dan ala kadarnya.

Itulah sepotong adegan dari film A Copy of Mind karya Joko Anwar, sutradara yang selalu membuat pendekatan berbeda dalam setiap film yang disutradarainya. Bukan menghadirkan kemilau gemerlapnya kehidupan Jakarta, Joko Anwar justru menyorot kehidupan kaum pekerja, yang harus berjuang seharian penuh untuk hasil yang tidak seberapa. Selain karakter Sari, muncul juga Alek (Chicco Jerikho) yang bekerja lepas sebagai penerjemah teks film DVD bajakan. Keduanya dipertemukan oleh kepingan-kepingan DVD yang dijajakan di kawasan Glodok, Jakarta. Atas dasar hobi dan kesukaan yang sama, keduanya pun saling jatuh cinta. Bahkan memutuskan tinggal bersama walau tanpa ikatan pernikahan.

Sari, yang mulai bosan dengan pekerjaannya, ingin mendapatkan hasil yang lebih. Ia pun melamar ke sebuah salon kecantikan kelas atas dan diterima. Tak disangka, klien pertamanya adalah seorang narapidana korupsi, menempati sebuah sel yang telah disulap bagai kamar hotel. Saat itulah Sari menemukan sebuah DVD film dan mencurinya. Namun ternyata, bukan sebuah film yang ia dapat, melainkan rekaman rahasia yang melibatkan pejabat-pejabat kelas atas. Sari dan Alek lambat laun menyadari, bahwa hidup mereka mulai terancam.

Joko Anwar tampaknya ingin film berjalan dengan natural. Ini bisa dilihat dari ketiadaan scoring dalam film ini. Pergerakan kamera pun cenderung dinamis, menggambarkan kehidupan kaum pekerja Jakarta yang keras. Berbagai hal di film ini terasa dekat dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi warga Jakarta. Kemunculan penjual minuman di pinggir jalan, wajah-wajah yang kusam karena debu, harus berjejal dalam metromini, menyusuri pasar yang dipenuhi oleh pedagang kaki lima, hingga terjebak di tengah kemacetan parah merupakan momok yang harus dihadapi warga Jakarta setiap harinya.

Ada sentilan-sentilan menarik dalam A Copy of Mind. Misalnya saja, ketika Sari protes kepada Alek soal teks film yang berantakan, dengan santainya Alek menjawab, “Kalau mau subtitlenya bagus, jangan beli yang bajakan.” Atau Sari yang setiap pulang bekerja, akan mampir ke toko elektronik, hanya untuk menonton dari televisi layar datar yang besar, karena impiannya adalah “punya TV yang gede banget biar setiap hari bisa nonton film”. Ini seperti mewakili angan-angan kaum pekerja pada umumnya, yang ingin hidup mewah layaknya kalangan jetset.

Karena keunikan dan pendekatannya yang berbeda, A Copy of Mind berhasil mendapatkan pengakuan dari Festival Film Indonesia 2015 untuk kategori Penata Suara Terbaik, Pemeran Utama Wanita Terbaik, serta Sutradara Terbaik. Film ini juga berhasil masuk seleksi Toronto International Film Festival 2015, Venice Film Festival 2015, serta Busan International Film Festival 2014 di mana A Copy of My Mind mendapatkan penghargaan sebagai film terbaik.

RELATED NEWS

Top
https://www.infopedas.com/wp-content/uploads/2021/09/logo-pedas.png